Bagaimana Cara Mengelola Proyek Konstruksi agar Tepat Waktu?

PELATIHAN MANAJEMEN PROYEK KONSTRUKSI JOGJA
Posted on: November 7, 2026 Posted by: admin diorama Comments: 0

Bagaimana Cara Mengelola Proyek Konstruksi agar Tepat Waktu?

Bagaimana Cara Mengelola Proyek Konstruksi agar Tepat Waktu?

Mengelola proyek konstruksi agar tepat waktu merupakan salah satu tantangan terbesar dalam manajemen proyek. Keterlambatan proyek tidak hanya berdampak pada jadwal penyelesaian, tetapi juga dapat meningkatkan biaya tenaga kerja, biaya peralatan, biaya operasional, hingga menimbulkan potensi klaim dan konflik dengan owner maupun stakeholder lainnya.

Dalam proyek konstruksi, waktu merupakan salah satu indikator utama keberhasilan proyek selain biaya, mutu, keselamatan, dan ruang lingkup pekerjaan. Karena itu, pengelolaan waktu harus dilakukan sejak tahap perencanaan hingga proyek selesai.

Pertanyaannya, bagaimana cara mengelola proyek konstruksi agar tepat waktu?

Jawabannya bukan hanya dengan membuat jadwal proyek. Manajemen waktu konstruksi membutuhkan kombinasi antara perencanaan yang realistis, penjadwalan yang terstruktur, pengendalian progres, pengelolaan sumber daya, identifikasi risiko, komunikasi yang efektif, serta tindakan korektif ketika terjadi penyimpangan.

Critical Path Method (CPM), misalnya, dapat membantu manajer proyek menentukan rangkaian aktivitas yang menjadi penentu durasi proyek. Aktivitas pada jalur kritis memiliki pengaruh langsung terhadap tanggal penyelesaian proyek sehingga membutuhkan perhatian lebih besar.

1. Buat Perencanaan Proyek yang Realistis Sejak Awal

Langkah pertama dalam mengelola proyek konstruksi agar tepat waktu adalah membuat perencanaan yang realistis. Kesalahan yang sering terjadi adalah membuat jadwal hanya berdasarkan target penyelesaian yang diinginkan tanpa mempertimbangkan kondisi aktual proyek.

Padahal, durasi pekerjaan dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti:

  • Kompleksitas pekerjaan.
  • Volume pekerjaan.
  • Produktivitas tenaga kerja.
  • Ketersediaan material.
  • Ketersediaan alat.
  • Kondisi lokasi proyek.
  • Cuaca.
  • Akses menuju lokasi.
  • Waktu pengadaan.
  • Proses approval.
  • Perubahan desain.
  • Ketersediaan tenaga ahli.
  • Regulasi dan perizinan.

Oleh karena itu, penyusunan jadwal harus dimulai dengan memahami ruang lingkup pekerjaan secara menyeluruh.

Salah satu alat penting yang dapat digunakan adalah Work Breakdown Structure (WBS). WBS membantu memecah proyek menjadi bagian-bagian pekerjaan yang lebih kecil sehingga lebih mudah direncanakan, dijadwalkan, diberikan sumber daya, dan dipantau.

Contohnya, proyek pembangunan gedung dapat dipecah menjadi:

Pekerjaan persiapan → pekerjaan tanah → pekerjaan pondasi → pekerjaan struktur → pekerjaan arsitektur → pekerjaan MEP → pekerjaan finishing → testing & commissioning → serah terima.

Setiap kelompok pekerjaan kemudian dipecah lagi menjadi aktivitas yang lebih spesifik.

Dengan perencanaan tersebut, manajer proyek dapat mengetahui pekerjaan apa saja yang harus dilakukan sebelum proyek dinyatakan selesai.

WBS juga dapat menjadi dasar dalam membangun hubungan antaraktivitas dan menyusun critical path schedule.

2. Susun Jadwal Proyek Menggunakan Critical Path Method

Setelah pekerjaan diidentifikasi, langkah berikutnya adalah menyusun jadwal proyek secara sistematis. Salah satu metode yang banyak digunakan dalam manajemen proyek adalah Critical Path Method atau CPM.

CPM digunakan untuk mengetahui rangkaian aktivitas yang menentukan durasi penyelesaian proyek. Aktivitas yang berada pada critical path memiliki float yang sangat kecil atau bahkan tidak memiliki float. Artinya, keterlambatan aktivitas tersebut berpotensi menyebabkan keterlambatan proyek secara keseluruhan.

Misalnya, sebuah proyek memiliki rangkaian pekerjaan:

Pondasi → Struktur → Dinding → MEP → Finishing → Testing → Serah Terima.

Jika pekerjaan struktur terlambat dan pekerjaan berikutnya tidak dapat dimulai sebelum struktur selesai, keterlambatan tersebut dapat memengaruhi seluruh rangkaian pekerjaan.

Karena itu, manajer proyek harus mengetahui:

  • Aktivitas kritis.
  • Durasi setiap aktivitas.
  • Predecessor dan successor.
  • Early Start.
  • Early Finish.
  • Late Start.
  • Late Finish.
  • Total Float.
  • Free Float.
  • Milestone proyek.

Jadwal tidak seharusnya hanya menjadi dokumen administrasi. Jadwal harus menjadi alat pengambilan keputusan.

Manajer proyek harus dapat melihat dari jadwal apakah proyek masih berada dalam jalur yang aman atau mulai menunjukkan potensi keterlambatan.

3. Tetapkan Baseline Schedule

Setelah jadwal disepakati, proyek perlu memiliki baseline schedule. Baseline merupakan jadwal acuan yang digunakan untuk membandingkan rencana dengan kondisi aktual.

Misalnya:

  • Rencana pekerjaan bulan pertama: 8%.
  • Aktual bulan pertama: 7%.

Selisih tersebut menunjukkan adanya deviasi.

Jika pada bulan berikutnya:

  • Rencana kumulatif: 18%.
  • Aktual kumulatif: 14%.

Maka deviasi semakin besar dan harus segera dianalisis.

Tanpa baseline, project manager akan kesulitan menentukan apakah progres proyek benar-benar terlambat atau masih berada dalam batas toleransi.

Baseline juga membantu membandingkan:

Planned Progress vs Actual Progress.

Dalam pengelolaan proyek modern, perbandingan tersebut dapat dilakukan melalui berbagai alat seperti:

  • Kurva S.
  • Gantt Chart.
  • Weekly progress report.
  • Monthly progress report.
  • Dashboard proyek.
  • Earned Value Management.

Dengan pengukuran secara berkala, keterlambatan dapat diketahui lebih awal sebelum menjadi masalah besar.

4. Pantau Critical Path Secara Rutin

Mengetahui critical path saja tidak cukup. Manajer proyek harus terus memantaunya selama proyek berlangsung. Hal ini penting karena critical path dapat berubah akibat perubahan durasi pekerjaan, perubahan hubungan aktivitas, keterlambatan, atau perubahan strategi pelaksanaan.

Misalnya, pekerjaan A awalnya memiliki float 10 hari. Setelah terjadi keterlambatan pada pekerjaan pendahulunya, float tersebut berkurang menjadi 3 hari.

Artinya, pekerjaan tersebut mulai menjadi lebih berisiko.

Bahkan, analisis CPM standar sebaiknya tidak dianggap sebagai satu-satunya gambaran risiko jadwal. PMI menjelaskan bahwa jalur yang secara matematis menjadi critical path belum tentu selalu menjadi jalur dengan risiko keterlambatan tertinggi. Karena itu, schedule risk analysis dapat digunakan untuk memberikan gambaran risiko yang lebih realistis.

Manajer proyek dapat membuat daftar aktivitas prioritas, misalnya:

Aktivitas Status Risiko
Struktur Sesuai jadwal Rendah
MEP Terlambat Tinggi
Finishing Terpengaruh MEP Tinggi
Testing Belum dimulai Sedang

Dengan cara tersebut, perhatian tim tidak hanya diarahkan pada pekerjaan yang sedang terlambat, tetapi juga pekerjaan yang berpotensi menyebabkan keterlambatan berikutnya.

5. Buat Lookahead Schedule

Master schedule memberikan gambaran proyek secara keseluruhan. Namun, tim lapangan juga membutuhkan jadwal yang lebih detail. Di sinilah lookahead schedule menjadi penting.

Lookahead schedule biasanya digunakan untuk melihat pekerjaan dalam beberapa minggu ke depan sehingga tim dapat mengidentifikasi kebutuhan dan hambatan sebelum pekerjaan dimulai.

Contohnya, sebelum pekerjaan pengecoran dilakukan, tim harus memastikan:

  • Gambar sudah disetujui.
  • Bekisting tersedia.
  • Tulangan tersedia.
  • Material beton tersedia.
  • Concrete pump tersedia.
  • Tenaga kerja tersedia.
  • Area kerja siap.
  • Inspeksi telah dilakukan.
  • Peralatan keselamatan tersedia.
  • Akses kendaraan siap.

Jika salah satu kebutuhan belum tersedia, masalah tersebut harus diselesaikan sebelum hari pelaksanaan, konsep ini membantu mengurangi waiting time di lapangan.

Bayangkan tenaga kerja sudah tersedia tetapi material belum datang. Atau alat sudah berada di lokasi tetapi gambar kerja belum disetujui. Secara administratif pekerjaan mungkin masih terlihat berjalan, tetapi secara produktivitas proyek sebenarnya kehilangan waktu.

6. Pastikan Material Datang Tepat Waktu

Material merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan jadwal konstruksi. Keterlambatan material dapat menyebabkan pekerjaan berhenti atau mengubah urutan pekerjaan.

Contohnya:

Material terlambat → pekerjaan tidak dapat dimulai → tenaga kerja menunggu → alat tidak optimal → aktivitas berikutnya tertunda → critical path terganggu.

Karena itu, manajer proyek perlu membuat material procurement schedule yang terintegrasi dengan project schedule. Material dengan lead time panjang harus mendapatkan perhatian khusus.

Beberapa material yang perlu dikendalikan antara lain:

  • Struktur baja.
  • Elevator.
  • Generator.
  • Panel listrik.
  • HVAC.
  • Material façade.
  • Material finishing khusus.
  • Peralatan mekanikal.
  • Peralatan elektrikal.

Pengendalian material sebaiknya mencakup:

Request → Procurement → Purchase Order → Production → Delivery → Inspection → Storage → Installation.

Setiap tahap harus memiliki target waktu.

Jangan menunggu sampai material habis baru melakukan pemesanan. Pendekatan tersebut sangat berisiko terhadap jadwal proyek.

7. Kelola Tenaga Kerja Berdasarkan Kebutuhan Proyek

Proyek konstruksi membutuhkan tenaga kerja dengan jumlah dan kompetensi yang sesuai. Kekurangan tenaga kerja dapat memperlambat pekerjaan. Namun, menambah tenaga kerja secara berlebihan juga belum tentu otomatis mempercepat proyek.

Manajer proyek harus memperhatikan:

  • Jumlah tenaga kerja.
  • Kompetensi.
  • Produktivitas.
  • Shift kerja.
  • Area kerja.
  • Urutan pekerjaan.
  • Ketersediaan alat.
  • Kepadatan tenaga kerja.

Misalnya, menambahkan terlalu banyak pekerja di area yang sempit justru dapat menciptakan konflik ruang kerja dan menurunkan produktivitas.

Karena itu, resource loading harus disesuaikan dengan kebutuhan aktual.

Jika proyek mengalami keterlambatan, manajer proyek dapat mengevaluasi beberapa alternatif:

  • Menambah tenaga kerja.
  • Menambah shift.
  • Mengoptimalkan metode kerja.
  • Menggunakan alat yang lebih produktif.
  • Melakukan pekerjaan paralel.
  • Mengubah sequence pekerjaan.

Namun, setiap tindakan percepatan harus dianalisis dari sisi biaya, kualitas, dan keselamatan.

8. Kendalikan Perubahan Desain dan Scope

Salah satu penyebab keterlambatan proyek konstruksi adalah perubahan pekerjaan.

Perubahan desain, spesifikasi, maupun scope dapat menyebabkan:

  • Pekerjaan dihentikan.
  • Pekerjaan dibongkar.
  • Gambar harus direvisi.
  • Material harus diganti.
  • Pengadaan ulang.
  • Penambahan tenaga kerja.
  • Perubahan metode.
  • Penyesuaian jadwal.

Karena itu, perubahan harus dikendalikan melalui change management.

Setiap perubahan sebaiknya dianalisis berdasarkan:

Scope → Cost → Time → Quality → Risk.

Jangan langsung menerapkan perubahan tanpa mengetahui dampaknya terhadap jadwal.

Jika perubahan desain memengaruhi critical path, project manager harus segera menghitung ulang konsekuensi terhadap tanggal penyelesaian proyek.

Dokumentasi juga sangat penting agar setiap perubahan memiliki dasar yang jelas.

9. Tingkatkan Koordinasi Antara Semua Pihak

Proyek konstruksi melibatkan banyak pihak sehingga komunikasi menjadi bagian penting dari pengendalian waktu.

Koordinasi yang buruk dapat menghasilkan:

  • Instruksi terlambat.
  • Informasi tidak sinkron.
  • Pekerjaan tumpang tindih.
  • Konflik antar-subkontraktor.
  • Kesalahan pekerjaan.
  • Rework.

Untuk menghindarinya, lakukan koordinasi secara terstruktur.

Beberapa forum yang dapat digunakan:

Daily Coordination

Membahas aktivitas harian dan hambatan yang muncul.

Weekly Coordination

Membahas progres mingguan dan rencana pekerjaan berikutnya.

Technical Meeting

Membahas persoalan teknis, gambar, metode, dan perubahan desain.

Progress Meeting

Membahas pencapaian proyek terhadap target.

Setiap rapat harus menghasilkan action item yang jelas:

Apa masalahnya? Siapa yang bertanggung jawab? Apa tindakan yang harus dilakukan? Kapan harus selesai?

Rapat tanpa tindak lanjut hanya akan menjadi aktivitas administratif.

10. Identifikasi Risiko Keterlambatan Sejak Awal

Proyek yang tepat waktu bukan berarti proyek tanpa risiko. Proyek yang tepat waktu adalah proyek yang mampu mengidentifikasi dan mengendalikan risiko sebelum dampaknya menjadi besar.

Beberapa risiko keterlambatan yang umum meliputi:

  • Keterlambatan material.
  • Keterlambatan approval.
  • Perubahan desain.
  • Produktivitas tenaga kerja rendah.
  • Kerusakan alat.
  • Cuaca buruk.
  • Masalah kondisi tanah.
  • Konflik pekerjaan.
  • Keterlambatan pembayaran.
  • Masalah subkontraktor.
  • Perizinan.
  • Keterlambatan keputusan stakeholder.

Buat risk register yang berisi:

  • Risiko.
  • Penyebab.
  • Probabilitas.
  • Dampak.
  • Level risiko.
  • Mitigasi.
  • PIC.
  • Target penyelesaian.

Dengan cara tersebut, manajer proyek dapat memprioritaskan risiko yang paling berpotensi mengganggu jadwal.

11. Lakukan Monitoring Progres Secara Harian dan Mingguan

Kesalahan umum dalam pengendalian proyek adalah melakukan monitoring hanya setiap akhir bulan. Jika masalah baru diketahui pada akhir bulan, waktu untuk melakukan recovery sudah jauh lebih sedikit.

Karena itu, monitoring sebaiknya dilakukan secara bertingkat.

Harian:
Pantau aktivitas lapangan, tenaga kerja, material, alat, dan hambatan.

Mingguan:
Bandingkan progres aktual dengan target dan evaluasi deviasi.

Bulanan:
Evaluasi kinerja keseluruhan proyek, forecast penyelesaian, biaya, risiko, dan kebutuhan tindakan korektif.

Data tersebut dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan penting:

Apakah proyek masih dapat selesai sesuai target?

Jika tidak, berapa besar potensi keterlambatannya?

Dan yang paling penting:

Apa tindakan yang harus dilakukan sekarang?

12. Gunakan Earned Value untuk Mengukur Kinerja Jadwal

Untuk proyek yang kompleks, pengendalian waktu dapat diperkuat dengan Earned Value Management (EVM).

EVM menghubungkan pekerjaan, biaya, dan waktu sehingga project manager dapat melihat apakah proyek berjalan sesuai rencana.

Beberapa indikator yang umum digunakan antara lain:

Planned Value (PV)
Nilai pekerjaan yang seharusnya sudah diselesaikan berdasarkan rencana.

Earned Value (EV)
Nilai pekerjaan yang benar-benar sudah diselesaikan.

Schedule Variance (SV)

SV = EV − PV

Jika nilai SV negatif, berarti pencapaian pekerjaan lebih rendah dibandingkan rencana.

Schedule Performance Index (SPI)

SPI = EV ÷ PV

Jika SPI:

  • > 1: progres lebih cepat dari rencana.
  • = 1: progres sesuai rencana.
  • < 1: progres tertinggal dari rencana.

Penggunaan indikator seperti SPI dan SV dapat membantu manajer proyek memperoleh gambaran kuantitatif mengenai performa jadwal.

13. Siapkan Recovery Schedule Ketika Terjadi Keterlambatan

Tidak semua keterlambatan dapat dihindari. Ketika keterlambatan sudah terjadi, jangan hanya mencatat bahwa proyek terlambat. Buat recovery schedule.

Recovery schedule merupakan rencana untuk mengembalikan proyek menuju target penyelesaian.

Beberapa strategi recovery dapat berupa:

  • Menambah tenaga kerja.
  • Menambah jam kerja.
  • Menambah shift.
  • Menambah alat.
  • Mengubah metode pelaksanaan.
  • Melakukan pekerjaan paralel.
  • Mengoptimalkan sequence.
  • Memprioritaskan pekerjaan critical path.
  • Mempercepat pengadaan.
  • Mengurangi aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah.

Namun, percepatan harus dihitung secara realistis.

Menambah tenaga kerja, misalnya, dapat meningkatkan biaya. Menambah jam kerja juga dapat menyebabkan kelelahan dan berpotensi menurunkan produktivitas jika tidak dikelola dengan baik. Selain itu, tekanan untuk mengejar jadwal tidak boleh mengorbankan mutu dan keselamatan.

14. Hindari Pekerjaan yang Tidak Produktif

Keterlambatan tidak selalu disebabkan oleh kurangnya jam kerja. Terkadang masalah terjadi karena sebagian waktu kerja tidak menghasilkan output.

Contohnya:

  • Menunggu material.
  • Menunggu instruksi.
  • Menunggu alat.
  • Menunggu approval.
  • Menunggu area kerja.
  • Memindahkan material berkali-kali.
  • Melakukan pekerjaan ulang.
  • Mengatasi kesalahan pekerjaan sebelumnya.

Penelitian mengenai schedule overrun menunjukkan bahwa ketika pekerjaan mulai terlambat, aktivitas dapat menjadi terfragmentasi dan dikerjakan tidak sesuai urutan. Kondisi tersebut dapat menurunkan produktivitas dan meningkatkan rework.

Karena itu, project manager harus mengidentifikasi penyebab lost time. Semakin banyak waktu tidak produktif yang dapat dikurangi, semakin besar peluang proyek mempertahankan jadwal.

15. Gunakan Data untuk Mengambil Keputusan

Manajemen proyek konstruksi modern tidak cukup mengandalkan intuisi. Keputusan sebaiknya didukung oleh data.

Beberapa data yang perlu dipantau antara lain:

  • Planned progress.
  • Actual progress.
  • Productivity.
  • Manpower.
  • Equipment utilization.
  • Material status.
  • Critical path.
  • Schedule variance.
  • SPI.
  • Risiko proyek.
  • Outstanding approval.
  • RFI.
  • Change order.
  • Rework.

Dengan data tersebut, manajer proyek dapat mengetahui masalah lebih cepat.

Misalnya, progres proyek masih terlihat sesuai target, tetapi jumlah outstanding approval terus meningkat.

Data tersebut merupakan early warning bahwa proyek dapat menghadapi masalah dalam beberapa minggu ke depan.

16. Lakukan Evaluasi Jadwal Secara Berkala

Jadwal proyek bukan dokumen yang dibuat sekali kemudian dibiarkan. Proyek konstruksi selalu mengalami perubahan kondisi sehingga jadwal perlu dievaluasi secara berkala.

Evaluasi dapat mencakup:

Rencana → Aktual → Deviasi → Penyebab → Dampak → Tindakan → Forecast

Jika terdapat keterlambatan, tentukan apakah keterlambatan tersebut:

  • Sudah terjadi.
  • Sedang berlangsung.
  • Berpotensi terjadi.
  • Memengaruhi critical path.
  • Memengaruhi tanggal penyelesaian.

Analisis delay secara berkala juga membantu menentukan kapan keterlambatan terjadi dan apa penyebabnya. Salah satu pendekatan yang dikenal dalam analisis keterlambatan adalah membandingkan jadwal pada beberapa titik waktu atau periode tertentu untuk melihat perkembangan deviasi dan penyebabnya.

Checklist Mengelola Proyek Konstruksi agar Tepat Waktu

Agar lebih mudah diterapkan, berikut checklist sederhana yang dapat digunakan project manager:

Perencanaan

  • Scope proyek sudah jelas.
  • WBS sudah dibuat.
  • Durasi pekerjaan realistis.
  • Resource sudah diperhitungkan.
  • Risiko awal sudah diidentifikasi.

Penjadwalan

  • Master schedule tersedia.
  • Baseline schedule ditetapkan.
  • Critical path diketahui.
  • Float setiap aktivitas dipahami.
  • Lookahead schedule dibuat.

Pelaksanaan

  • Material tersedia.
  • Tenaga kerja tersedia.
  • Peralatan siap.
  • Gambar kerja tersedia.
  • Approval tidak tertunda.
  • Koordinasi antar-subkontraktor berjalan.

Monitoring

  • Progress harian dicatat.
  • Progress mingguan dievaluasi.
  • Deviasi dianalisis.
  • Risiko diperbarui.
  • Critical path dipantau.
  • Forecast completion diperbarui.

Recovery

  • Penyebab keterlambatan ditemukan.
  • Recovery plan dibuat.
  • PIC ditentukan.
  • Target recovery ditetapkan.
  • Dampak biaya dianalisis.
  • Kualitas dan K3 tetap dikendalikan.

Kesimpulan

Cara mengelola proyek konstruksi agar tepat waktu membutuhkan sistem pengendalian yang konsisten sejak tahap perencanaan hingga penyelesaian proyek. Kunci utamanya bukan hanya membuat jadwal, tetapi memastikan seluruh aktivitas, sumber daya, material, tenaga kerja, risiko, komunikasi, dan perubahan proyek dikendalikan berdasarkan jadwal tersebut.

Pada akhirnya, proyek konstruksi yang tepat waktu adalah hasil dari manajemen yang proaktif, bukan sekadar reaksi ketika proyek sudah terlambat. Semakin cepat potensi masalah diketahui, semakin besar peluang project manager melakukan tindakan korektif sebelum keterlambatan memengaruhi tanggal penyelesaian.

Dengan menggabungkan perencanaan yang matang, critical path management, resource management, risk management, monitoring progres, serta komunikasi yang efektif, perusahaan dapat meningkatkan peluang menyelesaikan proyek konstruksi sesuai target waktu tanpa mengorbankan kualitas, biaya, dan keselamatan kerja.

Referensi

  1. Project Management Institute. A Guide to the Project Management Body of Knowledge (PMBOK Guide).
  2. Project Management Institute. Schedule Risk Analysis Simplified. PM Network.
  3. Kramer, Scott W. & Jenkins, James L. Understanding the Basics of CPM Calculations: What Is Scheduling Software Really Telling You? PMI Global Congress Proceedings.
  4. Jones, Charles. Moving from Work Breakdown Structure to a Critical Path Schedule. PMI Global Congress Proceedings.
  5. Project Management Institute. Origins of Schedule Overrun: Models and Common Problems.
  6. Project Management Institute. Delay Analysis Using the Snapshot Technique.
  7. Construction Industry Institute. Construction Planning and Scheduling.
  8. Kerzner, Harold. Project Management: A Systems Approach to Planning, Scheduling, and Controlling.
  9. Clough, Richard H., Sears, Glenn A., & Sears, S. Keoki. Construction Project Management.
  10. Ervianto, Wulfram I. Manajemen Proyek Konstruksi. Andi.
  11. Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Pekerjaan Umum. Buku Saku Panduan Singkat Reschedule Jadwal Proyek Menggunakan Microsoft Project, 2026.
  12. Amir, Abd Basit, dkk. Dominant Factors Causing Construction Project Delays in Indonesia and Their Mitigation Strategies: A Literature Review.
  13. Rosanti, Hera, Ingsih, Ita Suhermin, & Saefudin, Ruli. Penerapan Penjadwalan Menggunakan Metode CPM (Critical Path Method) & Metode PERT (Program Evaluation Review Technique) pada Proyek Konstruksi.
  14. Maulidanisa, Nabila & Rozy, Nikko. Analysis of the Application of Time Management in Building Projects with Critical Path Method (CPM) and Earned Value Method (EVM).

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *